Setelah melewati 606 hari tanpa mencetak gol untuk tim nasional Kanada, Cyle Larin akhirnya berhasil menjawab keraguan para pengkritik lewat sumbangan golnya di ajang Piala Dunia. Keberhasilan ini sekaligus mengalihkan fokus dan tekanan publik kepada rekan duetnya di lini depan, Jonathan David, yang dinilai belum menunjukkan performa maksimal.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi, kegembiraan sebenarnya tengah menyelimuti para pendukung Kanada dari ujung ke ujung setelah laga pembuka turnamen. Kanada berhasil meraih poin pertama mereka, mencetak gol ketiga di Piala Dunia, dan membuka peluang besar untuk menjuarai Grup B. Namun, momen krusial tersebut justru lahir dari kaki Larin, bukan David yang selama ini banyak diharapkan.
Menurut laporan pertandingan, David mendapatkan peluang emas pada menit ke-17 saat bola liar jatuh di dalam kotak penalti. Namun, sepakannya justru mengarah lemah ke kiper Bosnia, Nikola Vasilj. Akibat beberapa salah sentuhan dan kegagalan memanfaatkan peluang, pelatih Jesse Marsch akhirnya memutuskan untuk menarik keluar pemain Juventus tersebut pada menit ke-61.
Penampilan tersebut tentu jauh dari apa yang diimpikan oleh David. Melalui empat penampilan di piala dunia, pemain berbakat ini tercatat belum pernah mencetak satu gol pun. Meskipun kerap tampil gemilang di bawah gemerlap lampu Liga Champions, momen magisnya bersama timnas Kanada dalam beberapa tahun terakhir terbilang minim, selain gol krusial yang membawa Kanada ke semifinal Copa América 2024 lalu.
"Jonny tidak menjalani hari terbaiknya," ujar pelatih Jesse Marsch setelah hasil imbang melawan Bosnia. "Namun jangan salah, dia adalah pemain yang luar biasa penting bagi kami, dan kami membutuhkannya dalam performa terbaik di turnamen ini. Tanpa dia dalam kondisi puncak, kami bukan tim yang sama seperti potensi yang kami miliki."
Dari pengamatan tim redaksi dalam sesi latihan pertama di Vancouver, tempat Kanada mendirikan markas dan akan memainkan dua pertandingan berikutnya, David tampak sudah melupakan kekecewaannya. Dia kembali tersenyum lebar dan menunjukkan penyelesaian akhir yang spektakuler sejak media diizinkan untuk meliput. David terlihat gembira saat pemanasan, bahkan sempat bercanda dengan rekan-rekannya, termasuk Larin.
Kualitas David di sesi latihan juga diakui oleh bek tengah Kanada, Joel Waterman. Menurut Waterman, kemampuan bertahan dan pergerakan David tetap luar biasa. "Saya melihat pemain yang percaya diri, pergerakan yang hebat, komunikasinya luar biasa. Dia juga pencetak gol kami, jadi saya memiliki kepercayaan penuh pada striker kami saat ini. Kepercayaannya tidak pernah goyah," ungkap Waterman.
Hubungan antara David dan Larin sendiri sudah terjalin selama hampir satu dekade di program nasional Kanada. Keduanya sempat membentuk kemitraan lini depan yang mematikan yang meloloskan Kanada ke Piala Dunia 2022, bahkan sempat memiliki siniar bersama bernama "The Strikers" Corner'. Meski sempat mengalami penurunan kombinasi pada tahun 2025 karena perubahan sistem 4-4-2 yang diterapkan Marsch, chemistry mereka diharapkan dapat segera kembali.
Kini, pertandingan kedua melawan Qatar di BC Place, Vancouver, akan menjadi panggung pembuktian selanjutnya bagi David. Di hadapan sekitar 52.497 penonton yang diperkirakan akan memadati stadion, David memiliki kesempatan besar untuk mengikuti jejak Larin: mencetak gol ke-40 bagi negaranya sekaligus membungkam segala kritik yang dialamatkan kepadanya.